Menu

Mode Gelap
Mengenang Jasa Pahlawan, Polres Toraja Utara Gelar Ziarah Rombongan Sambut Hari Bhayangkara ke-80 Penahbisan Gereja Beth-El Tabernakel Kristus Bangkit Rantebolu Jadi Momen Sukacita dan Syukur Bagi Jemaat Jambore V Sekolah Minggu Gereja Toraja Klasis Kota Palopo Resmi Dibuka GMNI Toraja Utara Gelar Lomba Pidato dan Nobar Film Bung Karno, Momentum Mengenang Sang Proklamator pada Hari Wafatnya Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polres Toraja Utara Gelar Bakti Religi Bersihkan Tempat Ibadah Taekwondo Tana Toraja Raih Juara Umum III Sulteng Open Series VII di Kota Palu, Sukses Boyong Puluhan Medali

News

Delapan Dekade Indonesia Merdeka, Potret Simbuang Mappak – Tana Toraja yang Masih Terjajah di Negeri Sendiri

badge-check


					Puluhan Tahun Indonesia Merdeka, infrastruktur di Simbuang - Mappak masih tertinggal. Warga harus memandu jenazah di jalan yang berlumpur. Foto: Istimewa Perbesar

Puluhan Tahun Indonesia Merdeka, infrastruktur di Simbuang - Mappak masih tertinggal. Warga harus memandu jenazah di jalan yang berlumpur. Foto: Istimewa

TANA TORAJA, Vressnews – Sudah delapan dekade Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, akses infrastruktur di sejumlah wilayah pelosok tampaknya belum merdeka.

Di Kecamatan Simbuang dan Mappak, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, warga masih harus menandu jenazah secara bergantian sejauh puluhan kilometer akibat jalan yang rusak parah.

Peristiwa ini kembali mencuat ke publik setelah sebuah video viral memperlihatkan warga yang menandu peti jenazah melintasi jalan berlumpur dan tak layak dilalui kendaraan.

Kejadian tersebut berlangsung beberapa hari lalu dan hingga Kamis (7/8/2025) sore masih menjadi sorotan karena menggambarkan ironi pembangunan infrastruktur di tengah usia kemerdekaan Indonesia yang telah menginjak 80 tahun.

Akses Jalan Seperti Kubangan Kerbau

Jalan yang menghubungkan Kecamatan Mappak dan Simbuang selama ini memang kerap menjadi keluhan warga. Kondisinya yang mirip kubangan kerbau, terutama saat musim hujan, membuat kendaraan tak dapat melintas. Ambulans yang membawa jenazah dari Kota Makassar pun terpaksa berhenti di tengah jalan.

“Jalan yang ditempuh masyarakat untuk menandu jenazah ini kurang lebih 20 kilometer. Hal itu diakibatkan karena ambulans dari Makassar yang membawa jenazah tidak mampu tembus melalui akses yang begitu parah jalannya,” kata Demiaus Tonglo Arruan, Tokoh Pemuda Simbuang-Mappak, Kamis (7/8/2025).

Menurutnya, ini bukan kali pertama warga harus menandu jenazah. Tercatat setidaknya tiga kejadian serupa terjadi. Ia menyebut situasi ini sebagai “darurat infrastruktur” dan mendesak pemerintah untuk segera bertindak.

“Kami berharap pemerintah daerah, provinsi dan pusat bisa langsung turun tangan agar bisa memprioritaskan pembangunan yang ada di Kecamatan Simbuang dan Mappak,” ucap Demiaus.

Akses Penting Antar Kabupaten

Jalur Simbuang-Mappak merupakan jalur vital yang menghubungkan Kabupaten Tana Toraja dengan Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan dan Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat. Meski demikian, statusnya sebagai jalan provinsi kerap membuat perbaikan terhambat oleh koordinasi lintas pemerintah.

Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg, mengakui bahwa jalan tersebut merupakan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Meski demikian, pihaknya telah berupaya menyuarakan aspirasi masyarakat kepada pemerintah provinsi maupun DPRD Sulsel.

“Masalah ini adalah masalah jalan. Kita ketahui bersama bahwa Simbuang – Mappak itu adalah jalur dari provinsi. Kami di pemerintah kabupaten sudah bersurat secara resmi ke Gubernur Sulsel dan DPRD Provinsi agar ini bisa menjadi perhatian karena memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar Zadrak.

Ia menambahkan, dalam kondisi darurat seperti bencana atau kematian warga, pihaknya kerap turun langsung memfasilitasi akses darurat.

“Kalau ada bencana atau kondisi mendesak, kami hadir sebisanya memfasilitasi agar akses masyarakat tetap terbuka, meski itu bukan jalan kabupaten,” tuturnya.

Puluhan Tahun Indonesia Merdeka, infrastruktur di Simbuang – Mappak masih tertinggal. Warga harus memandu jenazah di jalan yang berlumpur. Foto: Istimewa

Harapan dan Realita Pembangunan

Peristiwa ini menjadi simbol yang menyakitkan dari ketimpangan pembangunan di Indonesia. Sementara sejumlah wilayah di Jawa dan kota besar telah menikmati jalan tol dan jalur kereta cepat, sebagian warga di pegunungan Sulawesi masih harus menggotong jenazah melewati jalan berlumpur.

Delapan puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan, pembangunan infrastruktur yang merata masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah pusat dan daerah.

Warga Simbuang-Mappak berharap agar momentum usia ke-80 Republik Indonesia tidak sekadar dirayakan dengan upacara dan bendera, tapi diwujudkan dalam bentuk nyata: jalan yang layak, pelayanan dasar yang merata, dan kehidupan yang lebih bermartabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Mengenang Jasa Pahlawan, Polres Toraja Utara Gelar Ziarah Rombongan Sambut Hari Bhayangkara ke-80

26 Juni 2026 - 03:06 WIB

Penahbisan Gereja Beth-El Tabernakel Kristus Bangkit Rantebolu Jadi Momen Sukacita dan Syukur Bagi Jemaat

25 Juni 2026 - 13:08 WIB

Jambore V Sekolah Minggu Gereja Toraja Klasis Kota Palopo Resmi Dibuka

24 Juni 2026 - 11:33 WIB

GMNI Toraja Utara Gelar Lomba Pidato dan Nobar Film Bung Karno, Momentum Mengenang Sang Proklamator pada Hari Wafatnya

22 Juni 2026 - 03:00 WIB

Sambut HUT Bhayangkara ke-80, Polres Toraja Utara Gelar Bakti Religi Bersihkan Tempat Ibadah

22 Juni 2026 - 02:45 WIB

Taekwondo Tana Toraja Raih Juara Umum III Sulteng Open Series VII di Kota Palu, Sukses Boyong Puluhan Medali

21 Juni 2026 - 11:44 WIB

Toraya Ma’gellu Sukses Digelar, Dongkrak Pariwisata, dan Ekonomi Lokal di Toraja Utara

21 Juni 2026 - 11:01 WIB

Trending di Headline