TANA TORAJA, Vressnews – Aktivis Toraja mengecam aksi karaoke bernuansa dangdut yang dilakukan sekelompok pengunjung di kawasan wisata religi Patung Yesus Buntu Burake. Aksi tersebut menjadi sorotan setelah videonya beredar luas di media sosial dan memicu beragam reaksi dari masyarakat.
Dalam video yang beredar, tampak sejumlah pengunjung menggelar hiburan karaoke dengan iringan musik dangdut tepat di area bawah Patung Yesus Buntu Burake. Aktivitas itu dinilai tidak mencerminkan penghormatan terhadap kawasan yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata religi sekaligus tempat refleksi bagi para pengunjung.
Salah satu aktivis Toraja, Anggi Gaffar, menilai kegiatan tersebut merupakan tindakan yang tidak pantas dilakukan di kawasan yang memiliki nilai religius dan sakral.
“Patung Yesus Buntu Burake adalah objek wisata religi yang seharusnya dijaga kesakralan dan marwahnya. Tempat ini bukan lokasi untuk menggelar hiburan yang berpotensi mengganggu ketenangan pengunjung lain,” tegas Gaffar, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, selain tidak sesuai dengan karakter kawasan wisata religi, aktivitas tersebut juga berpotensi mengganggu kenyamanan wisatawan yang datang menikmati suasana yang tenang.
“Jangan sampai tindakan seperti ini justru menimbulkan kesan buruk bagi wisatawan, baik dari dalam maupun luar daerah. Pengelolaan kawasan wisata religi harus memperhatikan etika dan menghormati nilai-nilai yang melekat pada tempat tersebut,” lanjutnya.
Ia juga mempertanyakan legalitas kegiatan tersebut. Gaffar meminta pengelola kawasan maupun pemerintah daerah memberikan penjelasan mengenai mekanisme pengawasan terhadap aktivitas yang berlangsung di kawasan Patung Yesus Buntu Burake.
“Yang menjadi pertanyaan, siapa yang memberikan izin sehingga kegiatan karaoke dangdut bisa berlangsung di kawasan Patung Yesus? Kalau memang tidak ada izin, tentu perlu dilakukan evaluasi terhadap sistem pengawasan agar kejadian serupa tidak terulang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Tana Toraja, Adelheid Sosang, mengaku tidak mengetahui adanya kegiatan tersebut. Saat dikonfirmasi terkait video yang beredar maupun status perizinan kegiatan itu, Adelheid menyatakan tidak pernah menerima permohonan izin.
“Saya tidak tahu, karena tidak ada yang datang minta izin ke kantor,” tulis Adelheid singkatnya kepada wartawan.














