Menu ✖

Mode Gelap
Rapat Paripurna DPRD, Bupati Toraja Utara Tegaskan Pengelolaan Aset dan Administrasi Wajib Tertib dan Transparan Kolaborasi Masata dan Masyarakat Adat, Toraja Highland Festival 2026 Siap Digelar Tampilkan Ritus Merok Melayat ke Rumah Duka Padayya Personil Manggala Agni yang Gugur dalam Tugas, Gubernur Sulsel Janji Tanggung Biaya Sekolah Anak Almarhum Melayat ke Rumah Duka Petugas Pemadam Karhutla, Bupati Toraja Utara: Almarhum Gugur Dalam Tugas yang Mulia Ops Patuh Pallawa 2026, Kapolres Tana Toraja : Polri Harus Jadi Contoh Tertib Lalulintas Dating Palembangan Ajak Pemuda Jadikan Hari Sumpah Pemuda Sebagai Energy Untuk Berkarya

News

Sebanyak 2000 Tanda Tangan Dilayangkan ke Pemerintah, Bentuk Penolakan Proyek Geotermal di Bittuang Tana Toraja

badge-check


					Aliansi Masyarakat Toraja Tolak Geothermal melayangkan Surat Penolakan Proyek Geotermal di Bittuang Tana Toraja. Foto: Istimewa Perbesar

Aliansi Masyarakat Toraja Tolak Geothermal melayangkan Surat Penolakan Proyek Geotermal di Bittuang Tana Toraja. Foto: Istimewa

MAKASSAR, Vressnews – Aliansi Masyarakat Toraja Tolak Geothermal memasukan surat penolakan rencana pembangunan Industri Geothermal, ke Pemerintah daerah Kabupaten Tana Toraja dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan serta DPRD Kabupaten dan Provinsi.

Surat penolakan tersebut memuat 13 poin alasan penolakan, selain itu surat penolakan tersebut berisi kurang lebih 2000 tanda tangan penolakan warga Bittuang, foto-foto persawahan dan pemukiman serta situs budaya (Tongkonan dan Patane) yang terancam hilang ketika proyek serakah tersebut dipaksakan.“Surat penolakan ini merupakan agenda lanjutan penolakan warga terkait rencana pembangunan geothermal di Bittuang, surat penolakan tersebut juga menunjukkan bahwa warga Bittuang secara tegas menolak eksploitasi sumber daya alam yang akan menghilangkan ruang penghidupan mereka,” tegas Daniel Somba, Koordinator Aliansi pada Rabu (1/4/2026).

Surat penolakan dengan ribuan tanda tangan di dalamnya memperlihatkan proyek geothermal bukanlah pembangunan yang inginkan oleh warga Bittuang, melainkan kepentingan pemodal dan pengusaha.

Bagi warga, Bittuang adalah ruang hidup, ruang dimana adat dan budaya masyarakat adat di produksi, di dalamnya ada sejarah dan adat budaya yang tidak bisa dinilai dengan angka. Bittuang bukanlah ruang kosong yang bisa eksploitasi demi kepentingan perusahaan dan para korporasi rakus.Surat penolakan yang sudah kami masukkan di Pemerintahan Daerah dan Pemerintah Provinsi sebagai pengingat kami kepada pemerintah bahwa kami tidak akan membiarkan kampung halaman kami dirusak, kami tidak ingin sumber mata air kami hilang, kami tidak ingin tongkonan kami digusur.

Jika Pemerintah ingin melindungi rakyat nya, maka seharusnya Pemerintah harus meninggalkan pola pembangunan yang eksploitatif dapat merampas kehidupan dan memiskinkan rakyatnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Rapat Paripurna DPRD, Bupati Toraja Utara Tegaskan Pengelolaan Aset dan Administrasi Wajib Tertib dan Transparan

30 Oktober 2026 - 10:52 WIB

Kolaborasi Masata dan Masyarakat Adat, Toraja Highland Festival 2026 Siap Digelar Tampilkan Ritus Merok

29 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Melayat ke Rumah Duka Padayya Personil Manggala Agni yang Gugur dalam Tugas, Gubernur Sulsel Janji Tanggung Biaya Sekolah Anak Almarhum

29 Oktober 2026 - 13:19 WIB

Melayat ke Rumah Duka Petugas Pemadam Karhutla, Bupati Toraja Utara: Almarhum Gugur Dalam Tugas yang Mulia

29 Oktober 2026 - 12:54 WIB

Ops Patuh Pallawa 2026, Kapolres Tana Toraja : Polri Harus Jadi Contoh Tertib Lalulintas

28 Oktober 2026 - 00:21 WIB

Dating Palembangan Ajak Pemuda Jadikan Hari Sumpah Pemuda Sebagai Energy Untuk Berkarya

27 Oktober 2026 - 23:38 WIB

Prihatin Karhutla, Hingga Kebakaran Liang Batu di Toraja Utara, Dating Palembangan: Ini Duka Kita Semua, Masyarakat Mohon Jangan Buka Lahan dengan Cara Membakar

27 Oktober 2026 - 08:05 WIB

Trending di Headline