TORAJA UTARA, Vressnews – Kasus hilangnya remaja pria 16 tahun bernama Stoner di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel), usai dikejar sekelompok orang tak dikenal (OTK) belum menemukan titik terang setelah 3.5 tahun. Publik mendesak pihak terkait segera memberi keterangan dan menuntaskan kasus ini.
Salah satu desakan itu datang dari praktisi hukum sekaligus Ketua Pemuda Toraja Indonesia (PTI) Provinsi Papua Barat, Patrix Barumbun Tandirerung. Dia menilai, hilangnya Stoner di Kabupaten Toraja Utara sekitar 3,5 tahun merupakan persoalan serius yang membutuhkan perhatian seluruh pemangku kepentingan.
Menurutnya, lamanya proses pengungkapan perkara yang diduga berkaitan dengan tindak pidana kekerasan dan telah dilaporkan secara resmi di Kepolisian seharusnya menjadi dasar bagi DPRD Kabupaten Toraja Utara untuk membentuk Panitia Khusus (Pansus).
“Melihat lamanya kasus ini terungkap , DPRD sebagai perwakilan masyarakat perlu membentuk pansus sebagai bentuk pengawasan terhadap proses penegakan hukum sekaligus memberikan dukungan politik yang memadai demi mendorong pengungkapan perkara secara transparan, objektif, dan berkeadilan,” ujar Patrix kepada wartawan, Selasa (4/8/2026).
Patrix juga mendorong pihak kepolisian menyampaikan perkembangan penanganan perkara secara berkala. Keterbukaan informasi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum sekaligus memberikan kepastian bahwa upaya pengungkapan kasus tetap berjalan.
“Kasus ini tidak boleh dibiarkan menjadi catatan yang terlupakan. Negara melalui seluruh instrumennya harus hadir untuk memastikan setiap warga negara memperoleh kepastian hukum dan keadilan. Pengungkapan perkara ini adalah bagian dari upaya menjaga rasa aman masyarakat dan memutus mata rantai kekerasan di tengah generasi muda,” ungkapnya.
Diketahui, Stoner diduga hilang pada Kamis (30/3/2023) malam di aliran Sungai Sa’dan setelah dikejar oleh sekelompok OTK menggunakan senjata tajam. Lokasi tepatnya di kawasan Tagari Lampan, Kecamatan Tallunglipu.
Ibu korban, Lisa Tanduk mengatakan, dia tidak mengetahui salah anaknya sampai dikejar hingga melompat ke sungai. Menurutnya, keterangan beberapa teman korban, saat itu Stoner berboncengan menggunakan sepeda motor dengan satu temannya ke wilayah Lampan, Kecamatan Tallunglipu, Toraja Utara.

Namun saat melewati jalan raya, Stoner dihadang sekelompok OTK dengan sajam hingga mereka berbalik arah dan berlari ke arah sungai. Peristiwa itu juga disaksikan sejumlah warga.
“Kalau menurut temannya berboncengan sama dia saat itu, dihadang sama kelompok yang memegang parang. Nah di situ mereka balik arah, jadi karena Stoner mungkin sudah takut, dia tinggalkan motor terus lari ke arah sungai, tapi memang kondisinya dia juga sudah dikejar orang-orang itu,” ucapnya.
Lisa dan keluarga juga sudah melaporkan kejadian tersebut ke polisi, beberapa pelaku pengejaran sempat diperiksa. Tetapi kata Lisa, para pelaku dibebaskan dikarenakan korban belum ditemukan.













