TANA TORAJA, Vressnews – Ditengah maraknya isu perundungan (bullying) yang seringkali hanya ditangani secara formalitas oleh instansi pemerintah terkait, namun tidak membuahkan hasil yang maksimal untuk menekan aksi perundungan yang terjadi khususnya di Tana Toraja.
Sebuah gerakan akar rumput muncul dari pelosok Tana Toraja, yakni Komunitas swadaya masyarakat Smart Soul Club (SSC) secara resmi memfasilitasi Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kristus Imam Agung Abadi Sangalla untuk menjadi pelopor ikrar dan penandatanganan komitmen stop bullying pertama yang diinisiasi secara mandiri oleh komunitas pemuda di Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada Sabtu 21 – 22 Februari 2026 tersebut dilaksanakan di Gereja Katolik Santo Paulus Lebani’, Kelurahan Leatung, Kecamatan Sangalla.

Berlangsung secara khidmat namun penuh semangat ini dimulai dengan sesi fasilitasi yang dipimpin langsung oleh Founder Smart Soul Club, Desyanti Tandirerung.
Sebagai seorang praktisi kesehatan, Desyanti menekankan bahwa perundungan bukan sekadar masalah disiplin, melainkan ancaman serius bagi kesehatan mental dan integritas jiwa generasi muda.
Metode Interaktif dan Pendekatan Iman Untuk mencairkan suasana dan membangun empati, tim volunteer SSC menghidupkan acara melalui berbagai permainan (games) edukatif.
Tidak berhenti pada aspek psikologis, materi kemudian diperdalam dengan tinjauan “Bullying dalam Pandangan Iman Katolik”.
Sesi ini memberikan landasan spiritual bagi para peserta bahwa tindakan merendahkan sesama adalah pelanggaran terhadap martabat manusia sebagai citra Allah.
Acara dilanjutkan dengan sharing session yang emosional, di mana para anggota OMK berbagi pengalaman dan keresahan mereka, hingga mencapai puncaknya pada pembacaan Ikrar Bersama Stop Bullying.
Komitmen Hitam di Atas Putih Berbeda dengan kampanye pada umumnya, gerakan ini dikukuhkan melalui penandatanganan Piagam Komitmen Stop Bullying.
Penandatanganan dilakukan secara simbolis oleh P.Andreas Melky, Pr (Pastor Moderator OMK Paroki KIAA Sangalla), Semuel Suprianto (Ketua OMK Paroki KIAA Sangalla), Desyanti Tandirerung (Founder Smart Soul Club).
“Ini adalah langkah nyata dari Sangalla untuk Indonesia. Kami ingin membuktikan bahwa komunitas swadaya masyarakat dan orang muda gereja bisa menjadi penggerak utama dalam memutus rantai bullying, tanpa harus menunggu program formal dari pemerintah,” tegas Desyanti Tandirerung.
Harapan Nasional Aksi OMK Paroki Sangalla ini diharapkan menjadi pemantik bagi komunitas-komunitas pemuda kategorial lainnya di seluruh Indonesia untuk berani menyatakan sikap serupa.
Dengan dokumen komitmen yang jelas, OMK Sangalla kini resmi menyandang status sebagai agen perubahan (agent of change) dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan penuh cinta kasih.
Untuk diketahui Smart Soul Club adalah komunitas swadaya masyarakat yang fokus pada penguatan karakter, kesehatan reproduksi ,kesehatan mental, dan fasilitasi sosial bagi generasi muda. Berbasis di Tana Toraja, SSC berkomitmen melahirkan individu-individu berjiwa cerdas yang peduli pada kemanusiaan, yang dirancang sebagai “teman seperjalanan” bagi anak dan remaja untuk mendapatkan akses terhadap hak-hak dasar seperti ilmu pengetahuan umum, kesehatan mental, kesehatan reproduksi, dan keterampilan hidup (life skills).
Sementara OMK sendiri adalah komunitas wadah kreativitas, pengembangan, dan pengaderan generasi muda di lingkungan Gereja Katolik. OMK berfungsi sebagai tempat bersosialisasi dan berdinamika bagi remaja dan kaum muda untuk mengembangkan diri dalam iman serta pelayanan kepada sesama.










