Menu

Mode Gelap
Polres Toraja Utara Gelar Aksi Kerja Bakti, Wujudkan Indonesia Bersih Belo Tarran: Luwu Anak Tiri, Toraja Tak Dianggap, Solusi Daerah Otonomi Baru DPRD se-Luwu Setuju Tana Toraja dan Toraja Utara Gabung dengan Provinsi Luwu Raya Uskup Agung Makassar Mgr. Fransiskus Nipa Tahbiskan Tiga Imam Baru dan Satu Diakon Pemda Halmahera Timur Bergerak Cepat Tanggapi Keluhan Masyarakat Terkait Kelangkaan Minyak Tanah DPC GMNI Toraja Utara Nilai Wacana Bergabungnya Toraja ke DOB Provinsi Luwu Raya Rasional Secara Administratif dan Pelayanan Publik

News

Belo Tarran: Sebaiknya Toraja Bergabung dengan Luwu Banyak Manfaatnya, Ketimbang Tetap Bersama Sulawesi Selatan

badge-check


					Perjuangan Pemekaran Provinsi Luwu Raya. Foto: Istimewa Perbesar

Perjuangan Pemekaran Provinsi Luwu Raya. Foto: Istimewa

TORAJA UTARA, Vressnews – Wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya kembali menguat, seiring dengan berbagai pembicaraan dan dorongan dari sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda yang ada di Luwu Raya.Menyikapi hal tersebut, salah satu tokoh pemuda Toraja Belo Tarran yang juga mantan Ketua KNPI Toraja Utara dua periode (2019-2022, 2022-2025), yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pemuda Toraja Indonesia berpendapat sebaiknya Toraja berbabung dengan Luwu dalam pembentukan Provinsi Luwu Raya.Menurutnya Toraja, yang terdiri dari Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, sebaiknya lebih memilih bergabung dengan Luwu Raya untuk membentuk sebuah provinsi yang lebih mandiri.

“Saya percaya bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya akan memberikan banyak manfaat yang lebih besar daripada tetap bertahan dalam administrasi Provinsi Sulawesi Selatan yang saat ini,” ungkap Belo Tarran kepada Redaksi, Selasa (13/1/2026).Belo menjelaskan bahwa alasan utama dirinya mendukung wacana tersebut adalah kedekatan historis, budaya, dan adat antara Toraja dan wilayah Luwu.

“Hubungan sejarah antara Toraja dan Luwu sudah terjalin sejak lama, dengan berbagai kesamaan dalam adat istiadat dan kebiasaan sosial. Hal ini menjadi dasar penting bagi pembentukan sebuah provinsi yang lebih harmonis dan saling mendukung antarwilayah,” ucapnya.

Selain faktor budaya, Belo juga menekankan pentingnya faktor geografis dalam membuat keputusan untuk bergabung dengan Luwu Raya.

“Perjalanan darat dari Toraja menuju Kota Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan memakan waktu yang cukup lama, sekitar 6 hingga 7 jam, tergantung pada kondisi jalan dan cuaca. Hal ini seringkali menjadi kendala bagi masyarakat Toraja dalam mengakses layanan publik, pemerintahan, maupun kegiatan ekonomi yang lebih efisien,” jelasnya.

Sebaliknya, jika Toraja bergabung dengan Luwu Raya ibu kota provinsi yang direncanakan di Kota Palopo, waktu tempuh menuju kota tersebut hanya sekitar 2 jam, yang jauh lebih dekat dan lebih mudah dijangkau.

“Jika kita bergabung dengan Luwu Raya, akses menuju pusat pemerintahan dan layanan publik akan lebih dekat, lebih efisien, dan lebih cepat. Hal ini tentunya akan mempermudah masyarakat Toraja dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari layanan publik, pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi,” tutur Belo Tarran.

Lebih lanjut, Belo juga menyoroti bahwa Toraja dan Luwu memiliki potensi ekonomi yang sangat besar, terutama dalam sektor pariwisata, pertanian, dan perkebunan.

Dengan bergabung dalam sebuah provinsi baru, dapat lebih fokus mengembangkan potensi tersebut, tanpa terbebani oleh jarak yang jauh dan kesulitan koordinasi administratif dengan Makassar.

Potensi sektor pariwisata di Toraja, yang telah terkenal secara internasional, juga dapat lebih maksimal dikembangkan jika diorganisir di bawah satu pemerintahan yang lebih terfokus pada wilayah ini.

Belo juga menambahkan bahwa banyak tokoh masyarakat Toraja yang mendukung ide ini, melihat bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya akan membuka peluang bagi daerahnya untuk berkembang lebih pesat, sejalan dengan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.

“Luwu Raya bukan hanya sekedar wilayah administratif baru, melainkan sebuah langkah strategis untuk mempercepat pembangunan yang lebih merata di Sulawesi Selatan,” tambahnya.

Meskipun beberapa pihak masih ada yang meragukan dan menentang wacana ini, Belo tetap optimis bahwa Toraja memiliki hak untuk menentukan masa depan politik dan administratifnya sendiri, dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang ada.

Belo juga mengajak generasi muda Toraja untuk lebih aktif dalam menyuarakan pendapat mereka mengenai hal ini. Ia berharap, melalui diskusi terbuka dan kolaborasi antara masyarakat Toraja dan Luwu, mereka bisa bersama-sama menciptakan sebuah provinsi yang mampu mengakomodasi kebutuhan dan harapan masyarakat.

“Wacana pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan hanya sekedar wacana politik, tetapi sebuah upaya nyata untuk memperbaiki kesejahteraan dan kemajuan masyarakat di wilayah Toraja dan Luwu,” tutupnya.

Pembentukan provinsi Luwu Raya diharapkan bisa menjadi solusi bagi permasalahan aksesibilitas, pemerintahan yang lebih efisien, serta pengembangan potensi ekonomi yang ada.

Pernyataan Belo Tarran ini tentu akan menjadi bahan diskusi yang lebih luas, dengan harapan bahwa keputusan yang diambil dapat memberi manfaat jangka panjang bagi seluruh masyarakat Toraja dan sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polres Toraja Utara Gelar Aksi Kerja Bakti, Wujudkan Indonesia Bersih

6 Februari 2026 - 10:54 WIB

Belo Tarran: Luwu Anak Tiri, Toraja Tak Dianggap, Solusi Daerah Otonomi Baru

6 Februari 2026 - 06:39 WIB

DPRD se-Luwu Setuju Tana Toraja dan Toraja Utara Gabung dengan Provinsi Luwu Raya

6 Februari 2026 - 06:28 WIB

Uskup Agung Makassar Mgr. Fransiskus Nipa Tahbiskan Tiga Imam Baru dan Satu Diakon

6 Februari 2026 - 06:08 WIB

Pemda Halmahera Timur Bergerak Cepat Tanggapi Keluhan Masyarakat Terkait Kelangkaan Minyak Tanah

6 Februari 2026 - 03:04 WIB

Trending di News