Menu ✖

Mode Gelap
Kapolres Toraja Utara Laksanakan Subuh Keliling di Masjid Taqwa Karassik, Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Tingkatkan Keimanan Kapolres Toraja Utara Bangun Sinergi Bersama Masyarakat Melalui Jumat Keliling di Masjid Taqwa Karassik Polisi Peduli Pengangguran, Kapolres Toraja Utara Berikan Pembekalan Kepada Peserta Pelatihan di UPTD BLK Torut Kumpul Bersama Masyarakat di Baruppu, Kapolres Toraja Utara Harap Pemberdayaan Pam Swkarsa Melalui Pos Satkamling Rapat Paripurna DPRD, Bupati Toraja Utara Tegaskan Pengelolaan Aset dan Administrasi Wajib Tertib dan Transparan Kolaborasi Masata dan Masyarakat Adat, Toraja Highland Festival 2026 Siap Digelar Tampilkan Ritus Merok

News

Belo Tarran: Luwu Anak Tiri, Toraja Tak Dianggap, Solusi Daerah Otonomi Baru

badge-check


					Belo Tarran: Luwu Anak Tiri, Toraja Tak Dianggap, Solusi Daerah Otonomi Baru Perbesar

TORAJA, Vressnews – Sulawesi Selatan, sebuah provinsi yang kaya akan budaya, sejarah, dan potensi besar, menyimpan cerita pilu di balik sistem pemerintahan dan pembangunan yang ada.

Jika diibaratkan sebuah rumah tangga, provinsi adalah orang tua, sementara kabupaten adalah anak-anaknya. Namun, dua wilayah Luwu dan Toraja selama ini dipandang sebagai daerah yang kurang mendapatkan perhatian, baik dalam komposisi pemerintahan maupun dalam prioritas pembangunan.

Belo Tarran, seorang tokoh muda asal Toraja, mantan Ketua KNPI Toraja Utara dua periode, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pemuda Toraja Indonesia, mengungkapkan kekecewaannya terhadap ketidakadilan yang diterima oleh wilayah tersebut.

“Kami di Luwu dan Toraja selalu diposisikan sebagai anak tiri, bahkan lebih parah lagi, Toraja seakan tidak dianggap sebagai anak sama sekali,” ungkapnya dengan penuh kekesalan kepada Redaksi Jumat

Ia menegaskan bahwa meskipun kedua wilayah ini memiliki potensi luar biasa yang dapat memperkuat provinsi Sulawesi Selatan, mereka selama bertahun-tahun telah dipandang sebelah mata.

“Luwu masih dianggap anak tiri, tetapi Toraja, kasihan, lebih parah, seakan-akan bukan anak dari Sulawesi Selatan, malah mungkin dianggap anaknya Papua atau Kalimantan atau Jakarta, karena pembangunannya selama ini lebih banyak dilakukan oleh Toraja Diaspora” tambahnya.

Perjalanan panjang yang dilalui masyarakat Luwu dan Toraja terasa seperti perjuangan tanpa ujung. Pemerintah provinsi yang seharusnya memperhatikan dan mendorong kemajuan daerah-daerah ini justru gagal memberikan perhatian yang setimpal. Hal ini membuat banyak pihak, terutama kalangan pemuda dan aktivis, merasa kecewa. Belo berpendapat bahwa ketidakadilan ini harus segera dihentikan.

“Sudah saatnya Luwu dan Toraja bersatu. Cukup sudah dianggap sebagai anak tiri dan bukan anak. Solusinya adalah pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB), yakni Provinsi Luwu-Toraja,” tegas Belo Tarran dengan nada yang penuh semangat.

Belo Tarran mengajak seluruh masyarakat Toraja dan Luwu untuk bersatu, membentuk provinsi baru, dan menghentikan kecurigaan satu sama lain antara kedua daerah. Menurutnya, narasi yang selama ini berkembang, yang seolah mengadu domba Luwu dan Toraja, sebenarnya dibangun oleh kepentingan luar yang tidak ingin kedua wilayah ini bersatu. Sebab, jika kedua daerah ini bersatu, maka kepentingan mereka akan terganggu.

“Sebenarnya, kita di Toraja dan Luwu telah diadu domba selama ini. Kita saling curi satu sama lain yang menyebabkan terjadinya ego sektoral. Padahal, jika ditarik lebih dalam, Toraja dan Luwu adalah satu, sejajar, bahkan secara biologis memiliki akar yang sama. Jika Luwu dan Toraja bersatu, maka percayalah, kedua daerah ini akan menjadi daerah yang maju dan berkembang pesat di Indonesia,” ujarnya penuh keyakinan.

Belo menambahkan “Ini bukan hanya soal politik atau pembangunan fisik semata, tetapi soal kesadaran bersama bahwa luwu dan Toraja adalah satu yang tidak terpisahkan dalam segala sektor.

Dalam hal sederhana saja, soal bahasa, baik Toraja maupun Luwu, pasti mengerti satu sama lainnya, tapi coba orang Luwu atau Toraja ke Kantor Gubernur Sulawesi Selatan menggunakan bahwa daerah, pasti sebagian besar bahasa tidak nyambung dan tidak mengerti satu sama lain” katanya.

Belo Tarran juga mengingatkan bahwa perjuangan untuk mewujudkan provinsi baru ini bukanlah perkara mudah. Diperlukan kerja keras, persatuan, dan kesatuan antar kedua wilayah untuk menyatukan tekad.

“Harapan saya yang terbesar adalah, para tokoh-tokoh dari Toraja dan Luwu sebaiknya duduk bersama, berdiskusi, dan mencari solusi terbaik untuk masa depan kedua daerah ini,” pungkasnya.
Belo Tarran menegaskan bahwa perjalanan ini membutuhkan kesadaran kolektif dari seluruh masyarakat, baik di Luwu maupun di Toraja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kapolres Toraja Utara Laksanakan Subuh Keliling di Masjid Taqwa Karassik, Ajak Warga Jaga Kamtibmas dan Tingkatkan Keimanan

7 November 2026 - 13:05 WIB

Kapolres Toraja Utara Bangun Sinergi Bersama Masyarakat Melalui Jumat Keliling di Masjid Taqwa Karassik

6 November 2026 - 11:35 WIB

Polisi Peduli Pengangguran, Kapolres Toraja Utara Berikan Pembekalan Kepada Peserta Pelatihan di UPTD BLK Torut

5 November 2026 - 13:55 WIB

Kumpul Bersama Masyarakat di Baruppu, Kapolres Toraja Utara Harap Pemberdayaan Pam Swkarsa Melalui Pos Satkamling

5 November 2026 - 13:50 WIB

Rapat Paripurna DPRD, Bupati Toraja Utara Tegaskan Pengelolaan Aset dan Administrasi Wajib Tertib dan Transparan

30 Oktober 2026 - 10:52 WIB

Kolaborasi Masata dan Masyarakat Adat, Toraja Highland Festival 2026 Siap Digelar Tampilkan Ritus Merok

29 Oktober 2026 - 13:42 WIB

Melayat ke Rumah Duka Padayya Personil Manggala Agni yang Gugur dalam Tugas, Gubernur Sulsel Janji Tanggung Biaya Sekolah Anak Almarhum

29 Oktober 2026 - 13:19 WIB

Trending di Headline