
PONTIANAK, Vressnews – Bupati dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)Toraja Utara melakukan studi tiru ke Kalimantan Barat di Kota Pontianak dan Singkawang, mempelajari strategi pengelolaan kerukunan umat beragama dan penanganan konflik horizontal pada Kamis (4/5/2026).
Dua kota yang wilayahnya di lalui garis Khatulistiwa itu dipilih menjadi tujuan studi tiru lantaran dinilai berhasil menjaga keharmonisan di tengah keragaman suku yang sangat kompleks dan penghargaan zona toleransi.
Salah satu hal yang menarik perhatian Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong selama berada di Pontianak adalah budaya ngopi.
“Warung kopi di Pontianak sebagai ruang publik, tempat di mana segala urusan, dari yang ringan hingga urusan penting, dibicarakan secara terbuka. Ruang saling kenal dan membicarakan banyak hal, memunculkan interaksi antarwarga, tempat yang efektif untuk mencairkan suasana” kata Frederik saat dikonfirmasi pada Jumat (5/6/2026).
Frederik mengatakan berencana akan mengadopsi budaya ngopi tersebut, pasalnya Toraja Utara dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas tinggi. Warung kopi sebagai salah satu UMKM yang penting untuk menunjang pariwisata dengan berbagai jenis olahan pangan lokal.
Menurut Frederik Victor Palimbong, filosofi warung kopi itu luar biasa, ada pahit dan manisnya hidup dalam setiap gelas kopi.
“Warung kopi jadi tempat untuk semua masyarakat, menjadi ruang terbuka memunculkan berbagai ide-ide kreatif. Kita bisa mendorong kemajuan dengan membangun kebiasaan yang bagus seperti ngopi, lalu menjadi kekhasan, tentu dengan modifikasi sesuai karakteristik daerah dan masyarakat kita di Toraja Utara. Kebiasaan beraktifitas pagi seperti berolahraga, bekerja, lalu dilanjutkan ngobrol atau diskusi-diskusi kecil di warung kopi dapat membuat kita lebih bersemangat, terinspirasi, dan lebih produktif,” ujar Dedy Palimbong sapaan akrab Bupati Toraja Utara.
Selain itu Bupati Toraja Utara juga mengapresiasi capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak yang sudah berada di level sangat tinggi. Menurutnya, pembangunan SDM yang sukses hanya bisa tercapai jika stabilitas daerah terjaga. Kerukunan dan keharmonisan adalah hal mutlak dalam membangun suatu daerah.
“Tidak ada daerah yang bisa dibangun dengan baik kalau kerukunan dan keharmonisan umat beragama serta masyarakatnya tidak terjalin, jadi melakukan pembangunan harus dan wajib menciptakan keharmonisan antar umat beragama,” tutupnya.

Turut ikut dalam rombongan Studi tiru tersebut Pdt. Musa Salusu, Pdt. Luther Taruk, Pastor Paulus Tongli, Drs Hj. Bumbun Pakata, Drs. Hj. Mujahidin, Dr. Pdt. Danny Saud, Pdt. Jerry Tiwa, Yonathan Mellolo S, serta Kaban kesbangpol Asmawati Karambe dan plt Inspektur Anugrah Y Rundupadang.












