TORAJA UTARA, Vressnews – Toraja Highland Festival (THF) 2026 akan mengangkat ritus adat Merok yang dilaksanakan di Buntu Pune, Toraja Utara, Sulawesi Selatan pada 5-7 November 2026.
Merok adalah salah satu ritual adat dalam syukuran rumah adat tongkonan atau yang biasa dikenal di Toraja sebagai mangrara banua.
Merok Tongkonan Potoksia dan Tongkonan Kamiri di Buntu Pune merupakan kesempatan untuk merenungkan kembali kedudukan Tongkonan dalam kehidupan masyarakat Toraja.
Tongkonan bukan hanya bangunan fisik tapi merupakan pusat ingatan genealogis, identitas rumpun keluarga, dan pelaksanaan berbagai tanggung jawab adat.
Di dalamnya, sejarah keluarga diwariskan, hubungan antar generasi dipelihara, dan nilai-nilai kehidupan diteruskan. Warisan leluhur tidak cukup dipelihara sebagai peninggalan masa lalu.
Warisan itu perlu dihidupi melalui sikap saling menghormati, kesediaan bekerja bersama, pemeliharaan hubungan kekeluargaan, dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.
Toraja Highland Festival tidak hanya menjadi ajang perayaan seni dan budaya, tetapi juga ruang kolaborasi bagi masyarakat adat, seniman, komunitas, generasi muda, Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Selama tiga hari pelaksanaan, festival akan menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan unsur tradisi, hiburan, ekonomi kreatif, dan partisipasi masyarakat.
Agenda utama meliputi Upacara Merok, Lomba Foto, Pameran Foto dan Lukisan, Bazaar UMKM, Apresiasi Lettoan, Fun Bike, serta Hiburan dan Pertunjukan Seni.

Ketua DPC Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Toraja Utara, Damayanti Batti, mengatakan festival tahun ini mengusung kolaborasi dengan masyarakat adat yang tengah melaksanakan ritus Merok, termasuk dua tongkonan di Buntu Pune yakni Tongkonan Potoksia dan Tongkonan Kamiri.
Menurutnya, kolaborasi tersebut dilakukan dengan tetap menghormati aturan adat dan memberikan kewenangan penuh kepada keluarga untuk menjalankan seluruh rangkaian upacara.
“Upacara adat itu murni dilakukan oleh keluarga. Kami tidak ikut campur di dalamnya, tetapi diberi keleluasaan untuk memberikan masukan, terutama terkait penataan dan dokumentasi kegiatan,” terangnya, di rumah jabatan Bupati Toraja Utara, Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, THF juga akan membantu mendokumentasikan rangkaian ritus Merok dari awal hingga akhir.
Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi tertulis bagi generasi mendatang yang ingin mempelajari adat Toraja.
Damayanti menilai dokumentasi adat sangat penting karena informasi mengenai tahapan upacara Toraja masih sulit ditemukan secara lengkap dan mudah dipahami masyarakat.
Melalui kolaborasi dengan UKI Toraja, dokumentasi tersebut diharapkan dapat dikembangkan menjadi bahan referensi, termasuk dalam bentuk buku, sehingga pengetahuan tentang adat Toraja tidak hanya diwariskan secara lisan.
Ia juga menegaskan bahwa adat dan agama merupakan dua hal yang perlu dipahami secara bijak dalam kehidupan masyarakat Toraja.
Ke depan, THF berencana melanjutkan kolaborasi dengan masyarakat adat di wilayah lain di Toraja Utara.
Sejumlah ritus adat berpeluang diangkat dalam festival berikutnya, bergantung pada kesiapan dan kesediaan masyarakat adat setempat.
Sementara itu Ketua Panitia THF 2026, Marselinus Dua Lembang, mengatakan festival ini diharapkan menjadi salah satu penggerak pariwisata sekaligus ekonomi kerakyatan di Toraja Utara.
Menurut Marselinus, Toraja Utara memiliki banyak potensi budaya dan pariwisata yang dapat dikembangkan.
Namun, potensi tersebut perlu dihubungkan dengan kegiatan ekonomi masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.
“Harapan saya, THF menjadi motor penggerak pariwisata, khususnya di Toraja Utara. Banyak hal yang bisa kita gali untuk menggerakkan ekonomi, terutama ekonomi kerakyatan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemilihan Buntu Pune sebagai lokasi festival didasarkan pada pelaksanaan ritus Merok serta nilai sejarah dan budaya yang melekat pada kawasan tersebut.
Festival ini juga diharapkan menjadi awal kolaborasi yang lebih luas antara masyarakat adat, pemerintah daerah, dinas terkait, dan unsur keamanan untuk mengembangkan kegiatan budaya sebagai daya tarik wisata.
Marselinus menambahkan, pelaksanaan ritus Merok berlangsung pada 2–7 November 2026, sedangkan rangkaian utama THF dijadwalkan pada 5–7 November 2026.
Sejumlah ritus adat akan dilaksanakan, yang dimulai pada (2/10/2026) yakni ritus Mangrimpun sebagai bagian dari penyelesaian persoalan dan saling memaafkan di antara rumpun keluarga.
Dan sejumlah ritus adat hingga kegiatan tersebut selesai.
Menurut Marselinus, setiap tahapan memiliki makna tersendiri dalam tradisi masyarakat Toraja. Pelaksanaannya juga menyesuaikan kondisi masyarakat saat ini.
Ia juga menyampaikan, selain mengangkat ritus adat, THF 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung yang melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif.
Panitia menyiapkan pameran foto dan lukisan, lomba foto, kegiatan UMKM, serta pertunjukan seni dan tari yang menampilkan unsur tradisional maupun modern.
Sejumlah penampil yang direncanakan terlibat antara lain pelajar dari beberapa sekolah di Toraja Utara dan kelompok musik tradisional.
Pertunjukan tersebut diharapkan memperkaya pengalaman pengunjung sekaligus memperkenalkan seni budaya Toraja kepada khalayak yang lebih luas.
Panitia juga menjadwalkan kegiatan fun bike pada 7 November dengan titik awal di Tongkonan Buntu Pune dan garis akhir di Alun-Alun Rantepao.
Marselinus berharap Dinas Perhubungan, Satpol PP, kepolisian, TNI, serta pemerintah setempat dapat mendukung kelancaran kegiatan, khususnya terkait pengaturan lalu lintas, parkir, dan keamanan.
Ia juga berharap kehadiran pengunjung selama festival dapat mendorong transaksi di lapak-lapak UMKM yang disiapkan masyarakat.













