SALATIGA, Vressnews – Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) didorong mampu menjadi kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang relevan menghadapi tantangan masa depan bangsa, di Era AI, Krisis Iklim, dan Geopolitik Baru.
Hal ini disampaikan William Sabandar, Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PNPS GMKI), saat Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) GMKI yang berlangsung pada 7–8 Februari 2026 di Yayasan Bina Darma, Salatiga, Jawa Tengah.

Menurut William, saat ini kita sedang hidup di masa ketika masa depan datang lebih cepat daripada kemampuan banyak institusi untuk menyesuaikan diri.
“Perubahan teknologi terutama AI bergerak eksponensial. Krisis iklim menciptakan tekanan sosial ekonomi yang terasa nyata, dari pangan hingga bencana. Geopolitik global semakin tidak stabil. Konflik, fragmentasi ekonomi dunia, dan persaingan kekuatan besar membentuk ulang perdagangan, energi, pertahanan, hingga arus informasi. Dalam situasi seperti ini, organisasi kader seperti GMKI tidak cukup hanya “bertahan”. GMKI harus mampu mentransformasi diri dan menempatkan diri secara profetis, menjadi kekuatan moral, intelektual, dan sosial yang relevan bagi gereja, masyarakat, bangsa dan negara tiga medan pelayanan yang sejak awal menjadi napas GMKI,” jelas William.
Bagi William Misi Pengurus Pusat GMKI saat ini adalah GMKI Future (GMKI 5.0) sudah sangat tepat. Namun “future” tidak boleh berhenti pada jargon digital atau modernisasi organisasi.
“Future harus menjawab satu pertanyaan besar yakni Untuk apa GMKI hadir di masa depan Indonesia?. Di sinilah saya ingin mengaitkan GMKI Future dengan visi PNPS GMKI 2025–2028 “Bersatu melayani lewat peran senior GMKI untuk mewujudkan damai sejahtera di bumi Indonesia.” ungkapnya.
Di Era saat ini, digital AI mengubah struktur pekerjaan, cara orang belajar, bahkan cara orang membangun opini. Di kampus, AI bisa mempercepat riset dan pembelajaran. Tetapi ia juga membawa risiko: kultur instan, plagiarisme, hilangnya daya pikir kritis, banjir informasi palsu, dan pembentukan “ruang gema” yang membelah masyarakat.
William mendorong GMKI harus masuk ke era AI bukan sebagai pengikut, tetapi sebagai pengarah. Memastikan teknologi melayani manusia, bukan menggantikan martabat manusia.
Dalam tiga medan pelayanan, AI menuntut GMKI untuk mengarahkan kecanggihan teknologi ini menjadi hal yang berguna.
Di gereja memperkuat literasi digital-iman, agar gereja tidak mudah terombang-ambing hoaks teologis, manipulasi emosi, atau “khotbah instan” tanpa kedalaman rohani.
Di masyarakat menjadi agen literasi publik membantu warga memahami informasi, membedakan kebenaran dan propaganda, serta membangun etika digital.
Di bangsa dan negara dapat melahirkan kader yang menguasai kebijakan publik terkait AI: tata kelola data, privasi, keamanan siber, dan dampak ketenagakerjaan.
“AI membuat satu hal menjadi sangat penting. Kualitas human talent. Negara yang menang bukan yang paling banyak penduduknya, tetapi yang paling cepat menaikkan kualitas manusianya. GMKI harus mengambil peran besar di sini, karena GMKI punya basis kader intelektual di kota-kota perguruan tinggi di Indonesia,” jelas William Sabandar.
Selain AI, Krisis iklim juga adalah hal yang penting ditekankan oleh William, hal ini bukan hanya urusan lingkungan saja tetapi isu keadilan. Dampaknya paling berat ditanggung oleh kelompok rentan seperti petani kecil, nelayan, masyarakat miskin kota, dan wilayah-wilayah dengan kapasitas layanan publik yang lemah.
“Isu iklim menyentuh inti iman kita penatalayanan ciptaan dan martabat manusia. Dalam tiga medan pelayanan, GMKI dipanggil untuk menolong jemaat menghidupi spiritualitas yang peduli ciptaan, bukan sekadar retorika. Di masyarakat GMKI harus terlibat dalam solusi adaptasi dan pengurangan risiko bencana, terutama di wilayah rawan, dan Di bangsa dan negara GMKI dituntut untuk melahirkan kader kebijakan yang mampu menjembatani pembangunan ekonomi dan keberlanjutan, termasuk transisi energi yang adil. Krisis iklim juga menyatu dengan realitas Indonesia sebagai negara bencana. Ini menuntut GMKI untuk memperkuat kehadiran di wilayah-wilayah yang paling rentan, termasuk kawasan timur Indonesia,” ujarnya.
Sementara Geopolitik dan polarisasi dunia makin terbelah, bangsa bisa ikut retak. Dunia sedang mengalami fragmentasi dimana konflik terbuka, perang ekonomi, perang informasi. Dalam situasi ini, Indonesia membutuhkan perekat sosial yang kuat.
“Kita butuh generasi yang mampu berdialog, bukan saling menghabisi, yang mampu menjembatani perbedaan, bukan memperdalam polarisasi. GMKI, dengan identitasnya berdiri di tengah dua proklamasi, punya modal teologis dan historis untuk memainkan peran rekonsiliatif menjadi agen damai sejahtera yang aktif menciptakan ruang dialog, ruang pelayanan lintas batas, dan ruang kerja sama untuk kebaikan bersama,” ucap William.
William menekankan transformasi GMKI 5.0 tidak boleh hanya fokus pada sistem dan organisasi, tetapi harus fokus pada panggilan sejarah.
“GMKI harus relevan, berdampak, dan menjadi bagian penting dari masa depan Indonesia, menjadi Arsitek di Era AI, Krisis Iklim, dan Geopolitik Baru” tutupnya.










