NASIONAL, Vressnews – Beasiswa Australia pada akhir tahun 1990an mengantarkan William Sabandar pada jalur mulai dari perencanaan jalan di daerah terpencil di Maluku hingga memimpin upaya rekonstruksi di daerah yang terkena bencana dan sistem metro pertama di Indonesia.
Sekembalinya dari studi pascasarjana di Australia dan Selandia Baru, William bergabung dengan Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias pada awal tahun 2005.
William ditunjuk untuk memimpin rekonstruksi Kepulauan Nias yang hancur akibat tsunami dan gempa bumi pada tahun 2004 silam.

Setelah menyelesaikan masa jabatannya pada tahun 2009 di BRR Aceh-Nias, William bergabung dengan misi kemanusiaan untuk membantu memulihkan Delta Ayeyarwady di Myanmar, yang dilanda Topan Nargis. William menjabat sebagai kepala tim rekonstruksi misi tersebut hingga tahun 2011.
William kemudian menduduki beberapa posisi pemerintahan, antara lain menjabat Deputi Operasi Badan Pengelola REDD+ dan mengepalai Gugus Tugas Nasional Percepatan Pengembangan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, sebelum ditugaskan sebagai CEO MRT Jakarta pada tahun 2016.
Di MRT Jakarta, ia mengawasi pengembangan, konstruksi, dan pengoperasian sistem angkutan cepat massal (MRT) pertama di Indonesia. MRT Jakarta menandai tonggak penting dalam memodernisasi sistem transportasi perkotaan kota.
“Saya loncat dari kampung halaman saya di Maluku bukan ke Jakarta, tapi langsung ke Australia. Saya melewatkan beberapa fase. Australia memberi saya kesempatan untuk belajar dan mendapatkan pengalaman internasional yang luas,” kata William, yang saat ini menjabat sebagai Chief Operating Officer Dewan Bisnis Indonesia.

Utusan Khusus Urusan Samudera Hindia, Anggota Parlemen Hon Tim Watts, menyerahkan Penghargaan Alumni Australia Tahun Ini kepada William Sabandar, PhD, pada Makan Malam Gala Alumni Australia 2025 di Jakarta. Foto: Istimewa/Australia Awards in Indonesia.
Merangkul Keberagaman dengan Hormat di Australia
Setelah meraih gelar sarjana teknik sipil dari Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, pada tahun 1990, William bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum.
Ia ditugaskan untuk merencanakan dan mengawasi pembangunan jalan nasional dan provinsi di Pulau Maluku. Seiring kemajuan karirnya, William merasa terdorong untuk mengembangkan keterampilan dan memperluas pengetahuannya.
Saat itulah ia mengetahui tentang Australia Awards Scholarships yang saat itu dikenal dengan Australia Special Training Assistance Scholarships (ASTAS). Beliau melamar dan diterima untuk mengejar gelar Master of Engineering Science (Teknik Sipil) di University of New South Wales.
Selain mempertajam keahlian teknik sipilnya, belajar di Australia memberinya jaringan baru, perspektif internasional, dan cara berpikir yang lebih maju. Ia mengenang bagaimana bertemu dengan mahasiswa dari berbagai negara memperluas pemahamannya tentang keberagaman dan inklusivitas.
“Berasal dari Indonesia, saya merasakan keberagaman. Namun di Australia, saya bertemu dengan mahasiswa Tiongkok, India, Malaysia, dan banyak lainnya. Salah satu dosen saya adalah orang Sri Lanka, dan saya merasa luar biasa dia datang dari Sri Lanka untuk mengajar di Australia. Saya berpikir bahwa dunia sebenarnya lebih besar dari negara saya,’ kenangnya.
Pengalaman tersebut, kata William, turut membentuk kompetensinya dalam membangun hubungan lintas budaya yang terbukti sangat berharga dalam kariernya.
Kebebasan berekspresi dan suasana santai di kampus juga meninggalkan kesan yang bertahan bertahun-tahun.
“Kampus saya menekankan pentingnya menghormati dan menerima perbedaan agar kita bisa berdiri sejajar. Semua orang bisa menyampaikan aspirasinya tanpa rasa takut,” katanya.
William lulus pada tahun 2000 dan melanjutkan studinya, melanjutkan studi PhD di bidang geografi di Universitas Canterbury di Selandia Baru.

William bergabung dalam foto bersama dengan sesama pemenang, Utusan Khusus untuk Urusan Samudera Hindia, Anggota Parlemen Yang Terhormat Tim Watts, dan Kuasa Usaha Australia, Ibu Gita Kamath. Foto: Istimewa/Australia Awards in Indonesia.
Momen Penentu dalam Karir Membangun Bangsa
William merenungkan dua momen penting dalam kariernya. Yang pertama adalah gempa bumi di Samudera Hindia dan tsunami yang terjadi pada bulan Desember 2004. Dipicu oleh gempa bumi besar di bawah laut di lepas pantai Sumatra, tsunami ini menyebar luas dan menghancurkan negara-negara di Samudera Hindia, hingga Somalia.
Dengan Aceh dan Nias sebagai daerah yang terkena dampak paling parah. Banda Aceh, ibu kota provinsi tersebut, diratakan oleh gelombang raksasa yang menewaskan hampir 200.000 orang di sana.
Sebagai ketua tim rekonstruksi Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias, pekerjaan William tidak hanya sekedar membangun kembali bangunan dan jalan yang rusak.
Ia juga merancang rencana tata ruang untuk memastikan kawasan yang dibangun kembali dapat tahan terhadap bencana di masa depan. Upaya-upaya ini membantu meletakkan dasar bagi pemulihan jangka panjang kawasan tersebut.
Tanggung jawab William memerlukan pembangunan koalisi dengan para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat dan provinsi, serta donor internasional, serta koordinasi dan pengambilan keputusan yang tepat waktu.
Upaya rekonstruksi di Aceh-Nias, katanyansangat penting dalam mengubah persepsi negatif dunia internasional terhadap Indonesia pada tahun-tahun awal era pasca-Suharto.
“Saya bangga pernah terlibat dalam operasi Aceh dan Nias. Di pihak saya, saya berhasil menumbuhkan pemahaman bahwa pemerintah dapat membangun kembali Aceh dengan bermartabat dan berintegritas,” ujarnya.
Tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 2016, ketika William ditunjuk untuk memimpin pengembangan MRT Jakarta.
Ketika beliau mengambil alih kepemimpinan PT MRT Jakarta, proyek tersebut menghadapi masalah pembebasan lahan yang mengancam upaya penting untuk merevolusi sistem transportasi perkotaan di Indonesia.
William berhasil mengatasi masalah tersebut. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada Maret 2019, MRT Jakarta resmi mulai beroperasi komersial.
Terinspirasi oleh pendekatan pembangunan berorientasi transit (TOD) Jepang terhadap pembangunan perkotaan, William mereplikasi konsep yang sama ketika mengembangkan MRT Jakarta.
TOD pada dasarnya mengintegrasikan ruang hunian, komersial, dan publik di sekitar stasiun angkutan umum. Dengan pendekatan ini, banyak bisnis bermunculan dan berkembang di sepanjang jalur MRT Jakarta.
“Belajar di Australia membantu saya memandang transportasi secara holistik. Dengan membangun infrastruktur dan membangun kota, Anda sebenarnya menciptakan lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk berinteraksi,”jelasnya.
Keteladanan Kepemimpinan Etis dan Perubahan Budaya William menghubungkan pengalamannya di Australia dengan membantunya berkembang dari seorang perencana menjadi seorang eksekutif dan pemimpin kebijakan publik yang strategis dan berdampak besar.
Hal ini memperkuat kemampuannya untuk berpikir secara global, berinovasi secara lokal dan melibatkan pemangku kepentingan tingkat tinggi, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan mitra internasional.
Di bidang pemerintahan, William bertujuan untuk mewujudkan pemerintahan yang bebas korupsi dengan memimpin dengan disiplin dan integritas serta bertindak sebagai teladan.
Berkaca dari pengalamannya memimpin MRT, ia mengaku tidak hanya ingin membangun infrastruktur tetapi juga mengubah budaya.
“Di situlah Anda dapat melihat perbedaannya. Dengan transportasi umum, segalanya menjadi lebih baik. Dulu, orang tidak mengantri dengan benar. Mereka mendorong dan mendorong, dan sampah dibuang ke mana-mana. MRT mentransformasikan budaya bagaimana masyarakat mengapresiasi infrastruktur dan fasilitas umum,” kata William.

William menyampaikan sambutannya usai menerima Australian Alumni of the Year Award 2025. Foto; Istimewa/Australia Awards in Indonesia.
Memperkuat Hubungan Indonesia-Australia
Dalam perannya saat ini sebagai COO Dewan Bisnis Indonesia, William mencatat bahwa pengembangan transportasi perkotaan merupakan bidang di mana Indonesia dan Australia dapat memperkuat hubungan mereka, khususnya di kota-kota berkembang dan kawasan pedesaan di Indonesia bagian timur, seperti Maluku dan Nusa Tenggara.
“Saya memandang pembangunan kawasan Indonesia dan Australia sebagai sesuatu yang harus melampaui batas negara dan melampaui batas politik masing-masing negara. Hal ini harus menekankan bagaimana interaksi sosial, budaya dan ekonomi dibangun antara kedua negara,” jelasnya.
Indonesia dan Australia juga dapat berkolaborasi dalam pengembangan transportasi perkotaan, seperti mengembangkan sistem MRT di Bali untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di kawasan padat turis.
“Itu adalah peluang yang saya catat karena latar belakang saya memungkinkan saya menangani aspek pembangunan ekonomi,” katanya.
Memperluas Peluang ke Seluruh Bangsa Berkaca pada perjalanannya, mulai dari bekerja di daerah terpencil hingga mendapatkan beasiswa dari pemerintah Australia dan membangun karier yang berdampak, William mencatat bahwa perencanaan pembangunan untuk Indonesia bagian timur masih mengandalkan pendekatan Jawa-sentris dibandingkan mempertimbangkan konteks sosial dan ekonomi yang berbeda di wilayah tersebut.
Mengapa wilayah Indonesia bagian timur masih tertinggal? Sebab, mereka mempunyai sumber daya manusia yang terbatas. Tidak banyak orang di Indonesia bagian timur mengambil langkah maju yang signifikan.
Untuk itu, William berharap seluruh masyarakat Indonesia mempunyai akses yang sama terhadap pendidikan.
“Saya ingin Indonesia bebas tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga bebas berpendapat, berinteraksi dengan semua orang, dan mempunyai peluang untuk mencapai kemajuan yang signifikan. Pembangunan tidak boleh hanya terjadi di Pulau Jawa, namun juga seluruh negara,” ujarnya.
Berita ini dikutip dari:
From Aceh’s Recovery to Indonesia’s First Metro: How William Sabandar Builds a Better Indonesia
Link:

















